Rabu, 30 Oktober 2013

BUMI TERLIPAT hingga KITA MAKIN DEKAT Oleh Siti Fatimah

Siapa bilang kita berjauh-jauhan?
Bukankah setiap malam kita
sempatkan melihat bulan yang
sama?
Siapa bilang kita tak saling tegur sapa?
Bukankah diam-diam
seringkali kita bicara jiwa dalam
do’a?
Siapa bilang kita berbeda tujuan?
Bukankah kita sering dipertemukan oleh ketidaksengajaan dalam satu keyakinan?
Seandainya kita tahu, seruan alam membuat kita lebih dekat. Kita berada dalam satu perintah
keTuhanan yang membuat kita
terjaga....
Kita merendam diri dalam suara tasbih, tahmid, takbir yang selalu menentramkan....
Kita berada dalam Bumi, dan Bumi melipat dirinya menjadi sesempit yang kita tidak pernah tahu bahwa kita akan merasa sedekat ini....

Melihat bulan yang sama,...
menampilkan ukuran yang sama,...
memantulkan cahaya yang sama...
Membentuk satu diorama dalam
kehikmatan yang seksama.
Lantas kita bertanya pada masing diri,

“Akankah kita bertemu lagi
dalam satu keniscayaan?”

Lantas kita menjawab pada masing diri,...
InsyaAllaah ada jalan. Jika tidak, bukankah kita masih bisa melihat bulan yang sama... Menampilkan ukuran yang sama...
Memantulkan cahaya yang sama...
Membentuk satu diorama dalam kehikmatan yang seksama....

Kita bersama-sama menanti bulan purnama, yang selalu datang tepat waktu, tidak terlalu cepat, juga tidak terlambat datangnya...

Seharusnya kita percaya itu, karena baginyalah ditanamkan kesabaran serta ketaqwaan dalam diri.
Lantas kita tersenyum tipis, meski tidak di tempat yang sama, tapi di waktu yang sama, kita bisa melihat bulan yang sama, menampilkan ukuranyang sama, memantulkan cahaya yang sama, membentuk satu
diorama dalam kehikmatan yang seksama...
Mungkin ini tidak bisa disebut puisi cinta, tapi komposisi utama dalam pembuatannya bisa disebut CINTA.......

Sudut Sunyi
N.A.P..
251013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar