Senin, 16 September 2013

SANG PENGEMBARA

(14)
Kubenam rasa pada bulan memudar pucat
Kuhirup malam bertabur aroma mawar di beranda tua yang lapuk
Bambunya diterjang zaman 

Tempat aku menulis syair-syair masa depan
Bulan masih tetap sama dalam kabut tipis
Seperti kemarin saat aku kembali merangkai puisi cinta
Untuk seseorang di pulau sebrang

Sendiri aku di pelabuhan sepi
Ditemani bayang semu memancar di laut
Tentang kangenku yang membuncah akan mawar di pulau seberang
Mendesak aku mengayuh sampan
Melewati gelora samudra demi sekedar menatap mata sayumu

Kekasih..
Di hitamnya malam masih ada cahaya yang takan pernah padam di hatiku
Membentuk satu Dunia yang dihuni para pujangga langit
Saat mentari terbit dan tenggelam kita akan sama-sama menikmatinya.
Saat bintang membetuk namamu di langit aku bisa melihatnya
Sudah kukelilingi mimpi untuk memecahkan misterinya
tapi belum kutemu jua jawabnya

Ingin kucari bayangmu di jingga senja
Akan kukayuh sampan yang rapuh sekalipun
Meyusuri pulau demi pulau karena aku anak kembara
Anak pulau yang resah
Anak pulau sang pemimpi
Anak pulau pujangga

Di pelabuhan sepi ini..
Ingin kuhirup kembali aroma mawarmu
Ingin kutulis kembali syair cinta
Hingga matahari terbenam, untukmu
Hanya untukmu

Sudut Rasa Empati
M.B
160913

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar