Selasa, 24 Desember 2013

INDAHNYA HUJAN DESEMBER Oleh Nur Adinda


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Desember
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Desember
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Desember
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Bukankah gerimis dan hujan telah mengajarkan kepada kita tentang ketabahan? Mimpi kita adalah oase di padang perjalanan yang panjang. Telah selaksa langkah terayun bercucur peluh. Ada lelah yang menjadi hiasan kanvas kehidupan, dan keluh kesah sebagai warna hitamnya. Haruskan hitam menjadi satu-satunya warna goresan kita?

Mari meraih mimpi tanpa mengumbar resah, kendati jiwa dan raga lelah. Menggapai angan selalu tak mudah, seakan lumrah jika diwarnai amarah, namun kesabaran akan terasa dan terlihat indah. Mari berguru pada ketabahan hujan, yang hanya membisikkan mimpinya pada deru angin, lalu mengarungi ketinggian langit untuk meraih kelopak bunga yang dirinduinya.

Adalah hujan turut mengajarkan kita sikap bijak. Ia menjejak cakrawala dalam bingkai waktu yang terus berlalu. Tercurah, deras, menggerus, kemudian berlalu. Ia lurus menatap masa depan. Ia enggan terus berkubang dengan masa lalu. Karena, hujan merasa lebih indah menatap kuncup yang mekar, merasa lebih syahdu menyimak gemercik mata air.

Kita pun bisa sebijak hujan. Masa lalu adalah kilasan sejarah yang terkadang harus dibiarkan berlalu. Kita harus mampu berkelit dari suramnya masa lalu. Kita harus sanggup melepas belenggu kegagalan. Hidup harus dibangun dengan pondasi optimisme, sebijak optimisme hujan menyambut kunang-kunang di remang langit petang.

Lihatlah indahnya hujan saat menerpa senja. Rintiknya tulus membauri bumi. Rinainya mengalir tanpa pamrih, menghias langit kemarau dengan seutas pelangi, membungkam petir dengan dekapan sunyi. Rintik hujan yang selalu dirindu, namun kita tak kunjung mensyukuri. Derai derasnya terkadang dijawab gerutu, sedangkan kita tak jua menginsyafi.

Hujan tak akan pergi meski dicaci, meski dibenci. Ia akan selalu memenuhi janji cintanya kepada bunga, kepada rerumputan, kepada ikan, kepada belalang, kepada kupu-kupu, dan juga kepada kita. Lantas mengapa kita lupa untuk arif seperti hujan? Bukankah kita terlalu sering berbuat demi sebuah pamrih, bukankah kita selalu ingin dipuji, bukankah kita beramal terkadang untuk disanjung?

Kita akan selalu rindu kepada gerimis, dengan sesekali memaki karena ia membasahi baju kita, tanpa mensyukuri karena ia memercikkan lumpur pada kendaraan kita. Tetapi gerimis tak akan hirau. Ia sudi dimaki, ia tak galau jika dilupakan, ia tanpa pamrih _____/\____/\____/\_____



Sudut Renungan
Nur Adinda
Ponti,231213

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar