Rabu, 25 April 2012

DUA GENGGAM GARAM DAN GALAU


  1. ___Dua Genggam Garam dan GALAU

    Suatu ketika..Ayah mendatangi Azizah
    Demi melihat wajah Azizah belakangan ini selalu tampak GALAU.
    “Kenapa kau selalu murung, nak?
    Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?” Ayah bertanya.

    “Ayah, belakangan Azizah banyak masalah. Sulit bagi Azizah untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab Azizah ketika itu.

    Ayah terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
    Bawalah kemari. Biar Ayah perbaiki suasana hatimu itu.”

    Azizah'pun beranjak pelan tanpa semangat. melakukan permintaan Ayah, lalu kembali lagi membawa GELAS dan GARAM sebagaimana yang diminta.
    “Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Ayah
    ”Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

    Azizah'pun melakukannya. Azizah meringis karena meminum air asin.

    “Bagaimana rasanya?” tanya Ayah.

    “Asin, dan perut Azizah jadi mual, Ayah” Azizah masih meringis.

    Ayah terkekeh-kekeh melihat wajah Azizah yang meringis keasinan.
    “Sekarang kau ikut Ayah.” Ayah membawa Azizah ke telaga di dekat telaga belakang rumah.

    “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga.”
    Azizah menebarkan segenggam garam yang tersisa ke telaga, tanpa bicara.
    Rasa asin di mulut Azizah belum hilang. Azizah ingin meludahkan rasa asin dari mulut, tapi urung Azizah lakukan.
    Rasanya tak sopan meludah di hadapan Ayah.

    “Sekarang, coba kau minum air telaga itu,” kata Ayah sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga.
    Azizah menangkupkan kedua tangan, mengambil air telaga, lalu meneguknya.
    Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir ditenggorokan Azizah, Ayah bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar, segar sekali,” Jawab Azizah sambil mengelap bibir dengan punggung tangan.
    “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” tanya Ayah
    “Tidak sama sekali,” Azizah mengambil air dan meminumnya lagi.

    Ayah tersenyum memperhatikan Azizah,
    membiarkan Azizah meminum air telaga sampai puas.

    Tiba2 Ayah sudah berada di samping Azizah dan memeluk pundak Azizah
    “Azizah'ku....
    Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
    Tidak kurang, tidak lebih. HANYA SEGENGGAM GARAM.

    Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu
    itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
    Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
    Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.
    Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi,
    yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

    Azizah terkesima, mendengarkan Ayah.

    “Tapi Azizah'ku,
    rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung
    dari KEBESARAN HATI yang menampungnya.
    Jadi Azizah, supaya tidak merasa GALAU, berhentilah jadi GELAS.
    Jadikan hati dalam dadamu menjadi SELUAS TELAGA
    agar kau bisa menikmati hidup”

    **Ayah, Semoga Allah selalu merahmati dan memberkatimu
    terimakaseh atas banyak'nya Ilmu yang Ayah ajarkan pada Azizah.

    Oleh : Azizah
    Surabaya,230412

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar